Kamis, 20 Juni 2013

Nasional

Kondisi Ketua DPRK Lhokseumawe Memprihatinkan

2012-03-09 23:47:00

Kondisi ketua DPR Kabupaten Lhokseumawe, Aceh Syaifudin Yunus, hingga Jumat (9/3) masih memprihatikan.

Bahkan hingga kini, fungsionaris Partai Aceh itu masih terus menjalani perawatan di Ruang ICU Rumah Sakit Colombia Asia, setelah dirujuk pagi tadi dari Aceh ke Medan.

Tim medis sendiri memastikan, korban menderita luka tembak di bagian punggung hingga menembus ke bagian perut.

Berdasarkan informasi yang dihimpun Jakcity.com di rumah sakit yang terletak di Jalan Listrik, Medan tersebut, setelah tiba di Medan, Syaifudin Yusuf alias Ponpang, langsung menjalani perawatan di ruang ICU yang terletak di lantai dua.

Penjagaan di rumah sakit tersebut tampak berbeda dari biasanya. Sejumlah satpam rumah sakit terlihat melakukan penjagaan lebih ketat.

Bahkan di depan ruangan tempat korban dirawat, tampak 2 orang satpam terus berjaga-jaga.

Bahkan sejumlah keluarga dan kerabat korban yang datang ke rumah sakit, tidak diperkenankan masuk ke dalam ruang perawatan.

Mereka hanya berkumpul di sekitar lorong menuju ke ruang ICU.

Terkait kondisi korban, Direktur Medik Rumah Sakit Colombia Asia Dokter Kianto mengungkapkan, meski dalam kondisi memprihatikan, kondisi pria berusia 40 tahun itu relatif stabil.

Namun saat ini, tim medis terus berusaha untuk memulihkan luka tembakan di bagian punggung korban yang menembus ke bagian perut.

Apalagi ditemukan ada pendarahan di bagian paru-paru korban.

"Saat ini kita terus berusaha memulihkan kondisinya setelah terkena tembakan di bagian punggung. Kita juga sedang mengusahakan untuk menghentikan pendarahan di paru-parunya," terang Kianto.

Seperti diketahui, Ketua DPR Kabupaten Lhokseumawe Syaifudin Yusuf alias Ponpang, diserang 2 orang tak dikenal Kamis dinihari, saat mobil yang dikendarainya dari Banda Aceh, baru tiba di depan rumahnya di Desa Alue Awe, Kecamatan Muara Dua, Lhoksemawe.

Dari hasil penyelidikan petugas, pelaku sempat melepaskan tembakan 4 kali dan 1 peluru diantaranya menembus tubuh korban.

Diduga, kasus ini terkait menjelang pemilihan kepala daerah hingga berdampak pada terus memanasnya suhu politik di Aceh. (yud)