Minggu, 20 Mei 2012
Broadcast Journalism Training

Nasional

Pemerintah Targetkan Pertumbuhan 6,7 Persen

2012-01-19 23:59:00

Pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonmi 6,7 persen, inflasi 5,3 persen, menurunkan pengangguran hingga 6,4 persen dan kemiskinan 10,5 hingga 11,5 persen.

Target tersebut cukup menantang di tengah kondisi dalam negeri yang mulai menghangat jelang pemilu 2014 dan situasi global yang masih dilanda gejolak.

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menyampaikan hal ini dalam penutupan Rapat Kerja Pemerintah 2012 di Hall C Arena Pekan Raya Jakarta, Kemayoran, Kamis (19/1) sore.

Target-target tersebut didasarkan pada meningkatnya sumberdaya anggaran kita.

"Sumberdaya meningkat, resources kita makin besar, sekarang mencapai Rp 1.435,4 triliun atau naik Rp 114,7 triliun yang setara dengan 8,7 persen," kata Presiden SBY.

Di sisi lain, lanjut Presiden, lingkungan strategis dalam negeri, kawasan, dan dunia juga menghadirkan tantangan.

Diantaranya masih terjadinya krisis ekonomi di Eropa, ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Dinamika politik, sosial, dan keamanan di tanah air sendiri tidak kalah menaik, juga terjadinya bencana alam.

Krisis ekonomi di Eropa masih terjadi dan hal ini bisa melahirkan krisis baru.

"Mepengaruhi ekspor kita dan sejumlah implikasi pada perekonomian nasional," ujar SBY.

Ketegangan geopolitik di Timur Tengah, misalnya antara Iran dengan Amerika Serikat, Uni Eropa pun masuk. Kemudian ketegangan antara Iran dengan negara Teluk.

Produksi minyak Iran sekitar 2,5 juta barrel per hari. Kalau ada apa-apa, supply minyak akan terganggu. Akibatnya harga minyaK bisa melejit hingga 120 - 150 dolar AS, dan seterusnya.

"Dan itu akan memukul semua perekonomian dunia, utamanya negara berkembang," Kepala Negara menjelaskan.

"Kita menjadi korban sesuatu yang kita tidak terlibat. Oleh karena itu saya sudah menulis surat kepada Sekjen PBB agar mengambil inistiaf mencegah terjadinya sesuatu yang buruk di kawasan itu karena dampaknya akan memukul bangsa-bangsa di dunia," Presiden menambahkan.

Di tanah air sendiri, ujar Presiden SBY, meskipun masih dua tahun dari 2014 tetapi hampir pasti akan ada penghangatan situasi politik. Implikasinya adalah kehidupan sosial dan ketertiban serta keamanan publik.

Dinamika di kawasan Asia-Pasifik tetap ada, namun menurut perhitungan SBY akan tidak sangat mengganggu.

"Misalnya situasi di Laut China selatan atau sengketa Thaildan dan Kamboja yang, alhamdulillah, sudah bisa kita mediasi," kata Kepala Negara.

"Bencana alam mengintai siapapun, tolong dipahami kita ingin mencapai sasaran-sasaran tadi dengan kerja keras tetapi ada lingkungan yang berpengaruh seperti itu," Presiden menadaskan.

sumber : presidensby.info