Nasional
SBY : Banyak Peristiwa Saya ketahui dari SMS dan Lebih Dulu dari Jajaran Kabinet
2011-12-03 00:01:25
SBY : Banyak Peristiwa Saya ketahui dari SMS dan Lebih Dulu dari Jajaran Kabinet
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono meminta jajaran kabinet dan pemerintahan untuk meningkatkan konsolidasi guna memasuki tahun 2012. Presiden juga meminta seluruh sistem di pemerintahan dapat meningkatkan daya tangkap dan responsif terhadap isu di kalangan masyarakat luas, termasuk insiden yang kerap terjadi di Indonesia.
"Saya instruksikan saudara-saudara para menteri KIB, mencakup pimpinan LPNK, Badan Usaha Milik Negara, dan para gubernur, kepala daerah. Intinya agar saudara melaporkan apa yang telah dilakukan dan dicapai pada 2011 ini," kata Presiden SBY dalam bagian lain arahannya ketika memimpin sidang kabinet paripurna di Kantor Presiden, Jumat (2/12) .
"Laporan itu cukup dibuat secara ringkas, yang penting betul-betul melaporkan apa yang dicapai, apa yang belum dicapai, mengapa dan solusi seperti apa. Pertengahan Januari 2012, saya harap laporan itu sudah saya terima dan tembusannya ke Wapres dan Kepala UKP4. Ini Penting," SBY menambahkan.
Berkaitan dengan daya tanggap dan komunikasi publik, Presiden SBY meminta agar isu-isu nasional bisa dikelola dengan baik. "Insan pers dan media massa bisa gunakan komunikasi untuk kabinet. Menkominfo beri fasilitas. Tidak perlu menunggu pertanyaan wartawan, bila minggu itu ada isu, maka menjadi kewajiban kita untuk ikut berkomunikasi disertai apa yang sedang dilakukan pemerintah," Presiden menjelaskan.
Mengenai daya tanggap, Kepala Negara memberikan koreksi tentang sistem pelaporan cepat yang sering tidak berjalan dengan baik. Misalnya ketika ambruknya jembatan di Sungai Mahakam di Kutai Kertanegara, Kalimantan Timur, SBY mengaku mendapat informasi dari sms yang masuk dan dari berita di media, bukan dari sistem, padahal kejadian sudah berlangsung selama 1 jam.
"Mestinya masalah itu cepat sampai di tangan Presiden. Boleh laporan sementara dan apa yang akan dilakukan, ini harus cepat sampai ke pengetahuan saya," Presiden menegaskan. "Tapi saya gembira Menko Kesra dan Menteri PU siap berangkat dan ambil langkah," SBY menambahkan.
Contoh lain adalah isu di Papua. Kepala Negara menjelaskan bahwa isu yang seolah tentara kita melakukan penembakan terhadap pengibar bendera didapatkan dari running text di salah satu jaringan televisi luar negeri, yang diketahui masyarakat dunia.
"Terhadap isu yang sensitif itu harus cepat, bila tidak akurat berikan koreksi. Tidak sampai berjam-jam dibangun pengetahuan masyarakat global ada tindakan yang keliru," Kepala Negara menekankan.
Menurut SBY, banyak peristiwa yang diketahuinya justru dari sms, bahkan Presiden tahu lebih dulu dibandingkan jajaran kabinet. "Hidupkan sistem pelaporan cepat. Andai sudah ditangani, beritahu bagaimana penanganannya sehingga saya yakin sistem bekerja dan tindakan dilakukan," Presiden menekankan.
"Ini bagian dari tanggung jawab kita untuk melayani publik, atasi masalah sekaligus jelaskan kepada pers sehingga tidak ada pemberitaan simpang siur," tandasnya.
foto: Presiden SBY dan Wapres Boediono saat memimpin rapat kabinet di Kantor Presiden, Jumat (2/12) . (foto: rusman/presidensby.info)
- Warga Histeris Pemukiman Mereka Dieksekusi
- Ibu Ani SBY : Jangan Biarkan Pembangunan Tidak Terkendali di Sekitar Sungai atau Situ
- Presiden SBY Pimpin Sidang Kabinet
- Protes Pembantaian Orang Utan, Pengunjukrasa Lempari Kantor Konjen Malaysia
- Longsor di Nias, 7 Orang Tewas dan 30 Orang Hilang
- Lima Prioritas Kerja Sama Strategis Indonesia dan Jerman
- Pembinaan Hukum Merupakan Landasan Pembangunan TNI
- Korban Jembatan Kutai Kartanegara Terus Bertambah
- Presiden SBY Menerima Kunjungan Presiden Jerman
- Lebih 4 Orang Tewas dan 30 Orang Hilang Akibat Longsor di Nias
- Kementerian ESDM Sosialisaikan Kenaikan BBM Lewat SMS
- Jelang Kenaikan Harga Pertamina Jamin Stok BBM Aman
- Presiden Tunggu Laporan Tim Sosialisai Sebelum Naikkan Harga BBM
- Polisi Tahan Tanker Angkut Solar Ilegal
- Presiden Sudah Tandatangani APBN-P 2013
- Menkeu:BLSM Dicairkan per Dua Bulan Mulai Juli
- BLSM Akan Dibagi Secara Bertahap
- Pengumuman Kenaikan Harga BBM Tunggu Proses Administrasi
- Wapres Boediono: BLSM Tak Terkait Kepentingan Parpol
- Kemenkeu Bantah Ada Pembayaran Rp38 Triliun ke IMF


