Minggu, 20 Mei 2012
Broadcast Journalism Training

Nasional

Protes Pembantaian Orang Utan, Pengunjukrasa Lempari Kantor Konjen Malaysia

2011-12-01 22:45:52

Aksi protes terhadap pembataian orang hutan di Kalimantan Timur yang dilakukan perusahaan perkebunan milik Malaysia terus berlanjut. Kamis siang (01/12), sejumlah mahasiswa kembali berunjukrasa ke kantor Konsulat Jenderal Malaysia di Medan, Sumatera Utara. Ttidak hanya mengecam tindakan tersebut, aksi ini juga diwarnai pelemparan kantor serta pembakaran replika bendera Malaysia dan foto perdana menteri negeri jiran tersebut.

berdasarkan pantauan Jakcity, usai melakukan aksi berjalan kaki berkeliling Kota Medan, pengunjukrasa yang tergabung dalam Jaringan Lingkar Mahasiswa Sumatera Utara ini, langsung memusatkan aksinya di depan kantor Konjen Malaysia di Jalan Diponegoro Medan.

Sebagai bentuk protes terhadap kasus pembantaian satwa langka yang dilindungi tersebut, para mahasiswa ini nekat menerobos blokade petugas, untuk memanjat pagar menggantungkan spanduk berisi tudingan terhadap Malaysia sebagai negara penjajah.

Bukan tanpa alasan menudin Malaysia sebagai negara penjajah, menurut mahasiswa, tidak hanya membantai orang utan,  malaysia juga terus mengusik keamanan Indonesia lewat berbagai tingkahnya seperti penangkapan nelayan di perairan Indonesia, aksi klaim pulau, klaim kebudayaan tanah air,  sampai penyelundupan kasus narkoba.

Untuk menyikapi hal tersebut, para mahasiswa mendesak pemerintah segera mencabut izin usaha perkebunan sawit Malaysia PT Khaleda Agroprima Malindo, yang dituding sebagai dalang pembantaian orang utan tersebut, serta mendesak Presiden SBY bersikap tegas terhadap Malaysia dalam berbagai permasalahan yang terjadi antara kedua negara.

Aksi pun mulai memanas, saat mahasiswa yang kesal dengan kondisi tersebut, melempari kantor Konjen dengan tanah. Belum puas dengan hal itu, puluhan replika bendera Malaysia dan foto perdana menteri Malaysia, turut dibakar. Bahkan kekecewaan juga dilampiaskan mahasiswa dengan menginjak-injak replika bendera.

Untuk meredam emosi para mahasiswa, sejumlah polisi pun akhirnya turun tangan dan meminta mahasiswa tidak bersikap anarkis. Setelah melakukan negosiasi, emosi mahasispun akhirnya mereda. Namun, hingga akhirnya massa aksi membubarkan diri, tidak satupun perwakilan konsulat yang menemui mereka. (yud)