Kamis, 20 Juni 2013

Kolom

DKI 1

2012-03-20 13:27:00

Alex Noerdin adalah Gubernur Sumatera Selatan yang masih aktif. Ia memutuskan cuti jadi Gubernur Sumut karena akan bertarung untuk mengkuti Pemilihan kepala Daerah atau pemilihan Gubernur DKI Jakarta.

Jadi siapakah Alex Noerdin? Tak usah dijawab pertanyaan ini, karena ini memang bukan soal untuk anak sekolah dasar.

Tapi lebih pada kebingungan partai politik untuk mengusung calon yang akan dimajukan sebagai Gubernur DKI Jakarta.

Pertanyaan kedua juga hampir sama, Joko Widodo, atau joko wi adalah Walikota Solo yang masih aktif, dan kini tengah dicalonkan untuk menjadi Gubernur DKI Jakarta.

Kalau Alex Noerdin Gubernur, Maka Joko Wi adalah Walikota, yang beberapa saat lalu namanya sempat disebut-sebut publik karena memfasilitasi mobil Esemka, buatan siswa Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Solo.

Tapi mari kita berprasangka baik. Untuk memimpin Ibukota seperti Jakarta, memang diperlukan orang-orang yang cakap dan teruji.

Sebagai ibukota, Jakarta adalah barometer semua hal yang terjadi di Indonesia. Itu sebebnya ibukota yang bersih dan beradab bukan sekedar dambaan, tapi juga keharusan agar negeri ini lebih dihormati dalam pergaulan internasional.

Jadi, siapapun yang dianggap terbaik, apapun latar belakangnya, harus diberikesempatan untuk memimpin ibukota.

Bakal calon DKI 1 yang telah terdaftar saat ini, boleh dibilang mereka yang telah mempunyai nama cukp lumayan.

Ada pasangan Joko wi dan Ahok, keduanya selama ini dikenal pro rakyat, kebijakan-kebijakan yang mereka buat banyak yang bersifat populis.

Ada Hidayat Nurwahid dan Didik J Rachbini, keduany dikenal sebagai pemimpin dan ilmuwan pro perubahan.

Hidayat Nurwahid adalah mantan presiden PKS dan Ketua MPR. Juga ada Faisel Basri dam Biem Benyamin, yang meruapakan pasangan intelektual pro rakyat dan putra Budayawan Betawi, Benyamin Sueb.

Beberapa calon yang lain adalah incumbent Fauzi Bowo-Nachrowi, Alex Noerdin-Nono Samporno serta Hendarmin Supandjie-Ahmad Riza Patria.

Beragamnya calon Gubernur DKI ini membawa sisi positif, bahwa permasalahan di DKI memang sudah menggemaskan semua orang.

Ibukota yang memiliki semua fasilitas ini seharusnya memang lebih baik dan lebih beradab. Tidak seperti sekarang.

Semua jadi serba tidak pasti, permasalahan yang terjadi melulu yang itu-itu juga, seperti, kemacetan yang semakin mengurangi produktivitas warga.

Belum lagi masalah Banjir, atau ketimpangan sosial yang juga semakin menjadi-jadi.

Boleh jadi ini adalah titik balik bagi pengelolaan ibukota menjadi lebih baik. Memberi kesempatan bagi mereka yang memang telah teruji membenahi wilayah patut dicoba.

Jakarta memang berbeda dengan wilayah lain di republik ini. Sebagai ibukota, tentunya lebih kompleks dan rumit.

Itu sebabnya dibutuhkan orang yang memang sudah teruji atau orang dengan track record yang mumpuni yang sanggup mengurai kerumitan itu.

Jakarta masa depan, adalah Jakarta yang membutuhkan gebrakan baru. Hanya dengan begitu, Ibukota ini jadi lebih beradab. (zbh)