Minggu, 20 Mei 2012
Broadcast Journalism Training

Kolom

Tato, Nikita, Polisi

2012-02-02 13:16:00

TUJUH belas tato menghiasi tubuh indah artis Nikita Mirzani. Guratan terbaru ada di dada, tapi inipun akan dihapus, entah dengan cara apa. Di bawah puser juga ada tato bunga yang menjadi favorit Nikita.

"Aku merasa seksi kalau pakai bikini. Ini hanya buat (dilihat) orang-orang tertentu," ungkapnya berbinar di studio televisi swasta akhir Januari lalu.

Kesukaan Nikita merajah kulit dengan tato bermula dari iseng. Di mata orang awam, Nikita seperti kecanduan melakukan aktivitas yang menyakitkan.

Ini mirip dengan fenomena di masyarakat yang gemar beraktivitas "menyakitkan" dan akan terus diulang.

Yang menjadi pembeda adalah obyek derita. Jika Nikita menjadikan kulit tubuhnya sebagai obyek, maka masyarakat melampiaskan pada polisi.

Catatan Ketua Presidium Indonesia Police Watch (IPW), Neta S Pane, ada11 polisi yang dianiaya atau ditembak masyarakat selama Januari 2012. Tiga di antaranya tewas.

Sebuah fenomena memprihatinkan, karena ketidakprofesionalan anggota. Warga jengkel melihat perilaku polisi sehingga mereka nekat.

Dalam rapat kerja dengan Komisi III DPR RI, para pejabat kepolisian diminta mengembalikan kepercayaan masyarakat terhadap institusi polri.

Ini pekerjaan serius bagi Kepala Polri Jenderal (Pol) Timur Pradopo, mengingat telanjur muncul pandangan miring terhadap polisi.

Kita mafhum masih ada kendala elementer di tubuh polri, termasuk perbandingan jumlah penduduk dengan polisi. Begitu pula dana operasional polisi yang minim sehingga kerap melibatkan pihak ketiga.

Tapi berbagai kendala itu bukan lantas berarti lembaga pengayom masyarakat itu dibenarkan melakukan langkah seenaknya. Ada yang harus dipertanggungjawabkan agar wibawa polisi terjaga.

Dari mana Kapolri akan mengembalikan kewibawaan korps? Tentu harus dari dalam, dengan membenahi sikap dan kinerja.

Lantas indikator apa sebagai penanda polisi menjadi berwibawa? Jawabnya sederhana; merasa nyaman dan amankah warga setiap kali mereka berurusan dengan polisi? Jika masih banyak yang menggelengkan kepala, polisi belum menjadi pengayom masyarakat.

Dan jika tidak segera dituntaskan, benturan polisi dengan warga akan terus terjadi. Wibawa polri makin ambruk....!! (jsu)