Minggu, 20 Mei 2012
Broadcast Journalism Training

Kolom

Anas Di ujung Tanduk ?

2012-01-31 13:27:00

Gonjang-ganjing di Partai Demokrat, terus bergulir. Pokok pangkalnya terletak pada posisi sang Ketua Umum, Anas Urbaningrum. Sejak tersangka kasus suap wisma atlit, Muhammad Nazarudin, terkuak., banyak pihak telah memperkirakan posisi Anas akan digoyang.

Apalagi sampai saat ini, Nazarudin, yang juga mantan Bendahara Partai Demokrat, konsistenmenyebut Sang Ketua Umum ikut menikmati "uang haram".

Saat ini, isu menggulingkan Anas Urbaningrum terus bergulir. Di internal partai, suara seolah terbelah.

Anggota dewan Pembina, Mubarok menyatakan Ketua Dewan Pembinan, Partai Demokrat, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono masih sayang pada kepemimpinan Anas urbaningrum. Sby, bahkan siap membentengi kepemimpinan Anas.

Sementara suara berbeda keluar dari anggota Dewan Pembina lainnya, Gonjang-ganjing di Partai Demokrat, terus bergulir. Pokok pangkalnya terletak pada posisi sang Ketua Umum, Anas Urbaningrum.

Sejak tersangka kasus suap wisma atlit, Muhammad Nazarudin, terkuak., banyak pihak telah memperkirakan posisi Anas akan digoyang.

Apalagi sampai saat ini, Nazarudin, yang juga mantan Bendahara Partai Demokrat, konsisten menyebut Sang Ketua Umum ikut menikmati "uang haram".

Saat ini, isu menggulingkan Anas Urbaningrum terus bergulir. Di internal partai, suara seolah terbelah.

Anggota dewan Pembina, Mubarok menyatakan Ketua Dewan Pembinan, Partai Demokrat, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono masih sayang pada kepemimpinan Anas urbaningrum.

Sby, bahkan siap membentengi kepemimpinan Anas. Sementara suara berbeda keluar dari anggota Dewan Pembina lainnya, Adjeng Ratna Suminar, mengakui ada rapat yang membahas empat nama calon pengganti Anas Urbaningrum sebagai Ketua Umum Partai Demokrat.

Rapat digelar di Kemayoran, Jakarta Pusat, pada 23 Januari 2012, dipimpin Wakil Ketua Dewan Pembina, Marzuki Alie. Beberapa nama bahkan telah disiapkan untuk menggantikan Anas.

Masalah korupsi, seolah menyandera Partai demokrat, Kasus yang awalnya diteriakkan Nazarudin sesaat ia dijadikan tersangka kasus korupsi wisma atlit.

Dikatakan menyandera, karena kalau masalah ini tidak selesai sebelum pemilu 2014, maka dapat dipastikan, hal ini akan menjadi ganjalan bagi partai besutan sby itu.Pihak lawan tentunya akan menggunakan kasus ini sebagai kampanye hitam .

Sementara mengganti Anas sebagai ketua Umum saat ini, bisa jadi "bumerang". Keterlibatan Anas belum sepenuhnya dibuktikan oleh hukum, baru berdasarkan pengakuan Nazaruddin. Selain itu, Anas-sebagaimana diakui sejumlah aktivis partai Demokrat, mempunyai pendukung dari akar rumput yang cukup kuat.

Jadi, seperti makan buah simalakama, dimakan bapak mati, tidak dimakan, ibu mati. Memecat Anas saat ini, bisa menjadi pemicu perpecahan partai yang lebih gawat. Sementara membiarkan anas tetap sebagai ketua umum, sementara proses hukum tengah berlangsung, bisa menyebabkan nama partai terus menjadi bulan-bulanan pihak lawan.

Kasus ini memang ujian bagi Anas sebagai pribadi, apakah ia sanggup mengadapai badai politik ini sebagai politisi handal atau justru selesai karirnya di dunia politik. Sementara bagi partai Demokrat, ini merupakan ujian sesungguhnya kalau mau disebut sebagai partai besar.

Apakah demokrat bernai "mengamputasi" kader terbaiknya demi nama baik partai, atau mencari celah untuk sekedar mejaga citra. Kita tunggu saja!!! (zbh)