Minggu, 20 Mei 2012
Broadcast Journalism Training

Kolom

Suku Bar-bar di Ibukota Jakarta

2012-01-13 14:05:05

JALAN raya di Jakarta adalah potret buram perilaku masyarakat. Diperlukan upaya sungguh-sungguh untuk membenahi manajemen lalu lintas.

Di negara lain, selain pemberian sanksi berat bagi pelanggar, manajemen lalu lintas dilakukan secara integral.

Thailand dan Malaysia bisa menjadi contoh terdekat. Kemacetan jalan raya teratasi setelah pemerintah membangun trasnportasi massal (kereta api) ke segala penjuru negeri. Akses dari perumahan ke stasiun sangat mudah, begitu pula trotoar terasa lapang.

Segala kebutuhan publik benar benar diperhatikan. Dengan demikian orang malas menggunakan mobil pribadi karena tidak efisien.

Kondisi anomali terjadi di Ibukota kita. Berbagai terobosan mengurai kemacetan tergantung pimpinan daerahnya. Liat saja tiang-tiang monorel KA yang dibangun di zaman Gubernur Sutiyoso, teronggok memilukan.

Nasib lebih bagus dialami Trans Jakarta. Moda tranportasi yang menggunakan jalur khusus (bus way) itu menjadi angkutan umum yang relatif lebih cepat dan nyaman dibandingkan angkutan umum lain di Jakarta.

Jalur khusus bus itu pula yang kini 'diperebutkan' pengguna jalan lain. Jika perlu dengan melepaskan tembakan agar bisa melenggang ke bus way.

Ini yang terjadi di koridor IV (Pulo Gadung-Dukuh Atas). Seorang polisi pengawal mobil Securicor (Isuzu Panther B-1071-TFV)
melepaskan tembakan kepada petugas bus Transjakarta, Kamis (12/1) pagi.

Aparat ini rupanya tak terima mobil yang dikawalnya itu dilarang masuk jalur Transjakarta di depan Hotel Sentral, Jalan Pramuka Raya arah Matraman.

Letupan tembakan itu sengaja di dekatkan ke telinga korban hingga rusak.
Petugas yang menjaga jalur bus TransJakarta sudah melakukan prosedur benar karena memang kendaraan apa pun tidak boleh masuk jalur bus Transjakarta, kecuali ambulans dan pemadam kebakaran.

Aparat kepolisian, seharusnya bisa menjadikan kasus ini sebagai momentum penegakan hukum di jalan raya. Jika pelaku tidak ditindak tegas, di kemudian hari kian banyak pengendara membawa parang, celurit dan senjata lain untuk mengancam agar bisa melenggang di jalur khusus bus TransJakarta. Jalan raya pun menjelma menjadi ajang pentas kaum bar-bar.

Dan indikasi ke arah sana sudah terlihat: dari main serobot seenaknya, mengabaikan rambu lalu lintas, sampai kejadian terakhir melepas tembakan ancaman. (jsu)

foto  : ilustrasi