Sabtu, 25 Mei 2013

Kolom

PSSI Harus Redam Konflik Agar Bisa Berprestasi

2011-12-23 21:56:24

Masalah PSSI ternyata belum selesai ketika Nurdin Halid dilengserkan dan Djohar Arifin terpilih menjadi Ketua Umum PSSI.

Harapan untuk melihat kompetisi yang sehat sebagai syarat pembentukan tim nasional sepak bola yang kuat kembali menjadi mimpi para pencinta sepak bola.

Pasca-Kongres Luar Biasa PSSI di Solo pada Juli lalu, pengurus baru di bawah Djohar bukan disibukkan untuk mengurus kompetisi tetapi justru pembangkangan sejumlah pengurus dan kemunculan liga tandingan.

Persoalan ini berawal dari ketidakpuasan sejumlah klub atas kebijakan PSSI dalam menggulirkan kompetisi musim ini.

Rencana PSSI untuk melakukan penilaian ulang untuk memilih klub yang layak terjun di kasta kompetisi tertinggi Liga Prima Indonesia yang tidak konsisten, menjadikan banyak pengurus klub kecewa.

Padahal niat PSSI menerapkan penilaian berdasarkan tatanan Konfederasi Sepak Bola Asia (AFC), yakni legal, finansial, infrastruktur, personel, dan sporting cukup menjanjikan jika verifikasi kesiapan klub benar-benar dilakukan.

Persoalan lain adalah kebijakan PSSI dalam menengahi dualisme kepengurusan di sejumlah klub seperti Persija, Arema Malang, dan PSMS Medan.

Banyak yang menilai PSSI memihak kelompok yang mempunyai kedekatan dengan mereka yang berkuasa saat ini meski PSSI menolak anggapan tersebut dan mengatakan mereka mendasari pada bukti legal yang dimiliki para pengurus klub.

Buntutnya tentu sudah bisa ditebak, kekecewaan pengurus klub yang tidak diterima belakangan ditampung oleh kelompok lama yang selama ini mendukung kepengurusan Nurdin Halid.

Lagi liga tandingan

Seperti de javu yang tidak mengenakkan ketika liga tandingan kembali bergulir dalam kepengurusan Djohar Arifin kali ini.

Adalah Joko Driyono, CEO Liga Super Indonesia era Nurdin Halid yang kini kembali menkoordinir liga bernama sama, hanya sekarang liga itu tidak lagi diakui oleh PSSI.

Dengan alasan ketidakpuasan terhadap kebijakan pengurus PSSI dalam memilih klub yang berlaga di kompetesi tertinggi, sejumlah pengurus klub memilih untuk bergabung dengan liga yang didukung oleh sejumlah orang dekat Nurdin Halid.

Liga ini mendapat dukungan promosi dan pembelian hak tayang dari perusahaan milik keluarga pengusaha Bakrie.

Kehadiran liga ini menjadi pukulan besar karena sejumlah klub besar seperti Persipura, Persib, dan Persija versi Ferry Paulus bergabung dengan liga tandingan ini.

Apalagi pemain tim nasional banyak dipasok dari klub-klub yang tergabung dalam LSI, seperti Titus Bonai, Patrich Wanggai, Bambang Pamungkas, atau Egi Melgiansyah.

Para pemain ini menjadi korban karena akibat pilihan para pengurus klub itu, PSSI sekarang melarang mereka yang bermain di liga ilegal bergabung dengan timnas Indonesia.

PSSI mengatakan kebijakan ini diambil atas dasar aturan FIFA yang hanya membolehkan pemain yang tergabung dalam liga resmi dan diakui oleh lembaga itu yang bisa bertanding di berbagai pertandingan FIFA.

Kegagalan Persipura untuk ikut terlibat dalam Liga Champhions Asia musim ini juga merupakan dampak keterlibatan mereka di LSI. Kengototan sejumlah pengurus klub untuk mengikuti LSI seperti melupakan cerita buruknya pengaturan kompetisi musim lalu yang digagas orang-orang yang sama.

KLB jalan keluar ?

Kongres Luar Biasa (KLB) sekarang diusulkan menjadi salah satu cara untuk menyelesaikan persoalan di tubuh kepengurusan Djohar Arifin saat ini.

Sebagian pemerhati sepak bola di Indonesia tentu tahu betapa melelahkannya proses kongres untuk memilih ketua PSSI saat ini.

Biaya yang dikeluarkan pun tidak sedikit. Biaya penyelenggaraan KLB di Solo saja pada Juli lalu diperkirakan mencapai Rp3 miliar. Namun itu sudah dilupakan bagi pengurus yang menentang kepengurusan saat ini.

Salah satu penggagasnya La Nyala Mataliti yang juga merupakan anggota komite eksekutif PSSI mengklaim desakan ini tidak bisa dihindari karena didukung oleh 2/3 anggota PSSI baik dari pengprov dan klub yang berjumlah 583 anggota.

Pemerintah melalu Kementerian Pemuda dan Olahraga sejauh ini tidak mendukung rencana penyelenggaraan KLB. Pertanyaan mendasar yang juga perlu ditujukan kepada mereka yang mengsusung KLB ini adalah apakah ada jaminan terlaksananya KLB akan membuat sepak bola Indonesia lebih baik.

Apalagi pencinta sepak bola telah mengetahui kiprah para pengusung KLB di kepengurusan sebelumnya.Pengurus PSSI saat ini tampaknya juga tidak boleh jumawa dengan posisi yang mereka pegang sekarang.

Mengajak para "penentang" untuk kembali berbicara bukanlah hal yang dilarang selama bertujuan menyelamatkan sepak bola Indonesia.

Merintis lagi rekonsiliasi

Antusiasme pendukung Indonesia untuk melihat timnas berprestasi sangat tinggi. Masih terngiang pernyataan Djohar di telinga saya dalam pembicaraan seusai dia terpilih sebagai ketua umum PSSI.

"Jadi perselisihan dan kesalahpahaman yang lalu, saya akan usahakan, saya akan berkoordinasi dengan pengurus, karena teman saya Pak Nurdin (Halid), Pak Nugraha (Besoes), karena mereka adalah teman semua," kata Djohar saat itu.

"Saya akan rangkul. Bagaimana pikiran mereka tidak ada masalah, yang lalu sudahlah, agar merah putih berkibar di lapangan bola di kancah dunia,” katanya.

Kisruh ini memang harus diselesaikan dan tidak boleh menjadi beban PSSI apalagi pada 2012 akan ada sejumlah agenda penting. Seperti pada bulan September timnas Indonesia akan disibukan dengan babak kualifikasi Piala Asia 2015 Australia.

Lalu di level Asia Tenggara, timnas akan dihadapkan pada ajang Piala AFF bulan Desember. Anda sebagai pencinta sepak bola tentu sudah bisa membayangkan bagaimana persiapan timnas jika konflik ini tidak juga selesai hingga awal 2012.

Kalau KLB dipaksakan berlangsung bukan tidak mungkin akan membuat pelaksanaan kompetisi liga terganggu, belum lagi proses pemilihan pemain timnas yang terbatas akibat tidak dapat dimasukannya nama-nama pemain yang bergabung dalam LSI karena tidak mendapat pengakuan dari FIFA.

Namun kalau pertimbangan ini diabaikan oleh mereka yang bertikai, saya dan Anda semua pencinta sepak bola tampaknya memang harus menunggu lebih lama prestasi mengahampiri timnas Indonesia.

andreas nugroho/bbc indonesia

foto :bbc indonesia