Minggu, 20 Mei 2012
Broadcast Journalism Training

International

Warga Mesir Rayakan Revolusi

2012-01-26 00:28:00

Ribuan warga Mesir memperingati satu tahun pemberontakan yang berujung pada lengsernya Presiden Husni Mubarak di Lapangan Tahrir, Kairo hari Rabu (25/01).

Sejumlah warga memperingati keberhasilan partai-partai Islam dalam pemilihan pertama pasca-Mubarak, sementara warga lainnya menyerukan reformasi politik.

Penerapan undang-undang darurat dicabut sebagian untuk menandai peringatan ini.

Mubarak saat ini tengah diadili dengan dakwaan memerintahkan pembunuhan para demonstran. Ia menyanggah semua dakwaan.

Ratusan orang yang dihukum penjara oleh Mahkamah Militer akan dibebaskan Rabu sebagai langkah konsesi kepada para pengunjuk rasa.

Hari Selasa malam, beberapa ribu orang telah berkumpul di Lapangan Tahrir, pusat demonstrasi tahun lalu.

Ribuan lainnya, bergabung Rabu (25/01) pagi dan mereka mewakili kelompok liberal dan Islamis yang mewarnai kancah politik Mesir.

Wartawan BBC Jon Leyne di Kairo mengatakan sejauh ini demonstrasi berjalan damai dan seperti layaknya pesta besar dan bukan protes.

Seruan militer mundur

Para demonstran yang bermalam di Lapangan Tahrir mendirikan tenda dan meneriakkan slogan menentang Dewan Agung Militer.

Banyak yang menyerukan agar Dewan Agung Militer segera turun.

"Kami di sini bukan untuk merayakan, kami berada di sini untuk menurunkan kekuasaan militer," kata Imam Fahmy kepada kantor berita Associated Press.

"Mereka gagal dalam revolusi dan tidak memenuhi satu pun sasaran."

Demonstran lain Khaled Abdallah mengatakan kepada kantor berita Reuters, "Tentara dan polisi membunuh kami dan membungkam suara revolusi. Suara revolusi tidak akan bisa dibungkam."

Sejumlah demonstran lain meneriakkan, "Turun militer" dan "Revolusi sampai menang, revolusi di semua jalan-jalan Mesir."

Namun sebagian orang lain di Lapangan Tahrir mengatakan protes harus diakhiri dan para pemimpin baru harus diberi waktu untuk memajukan Mesir.

"Dewan Militer akan mundur, dan tentu saja revolusi belum selesai. Namun bukan berarti revolusi harus mengganggu kehidupan," kata akuntan Mohamed Othman kepada kantor berita Reuters.

sumber : bbc